Selasa, 19 Oktober 2010

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI FARMASI

BAB I

1.1 TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Mengenal dan mengidentifikasi beberapa macam haksel yang secara tradisional digunakan sebagai ramuan obat.
2. Melakukan identifikasi simplisia secara mikroskopik dan mengetahui ciri khas masing-masing simplisia tersebut.
1.2 DASAR TEORI
Haksel merupakan bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, biji dan lain-lain yang dikeringkan tetapi belum dalam bentuk serbuk. Sedangkan simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagai obat dan belum mengalami proses perubahan apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral.
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia nabati paling banyak digunakan seperti rimpang temulawak yang dikeringkan bunga melati, daun seledri, biji kopi, buah adas
2. Simplisia hewani, yaitu simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni contohnya sirip ikan hiu dan madu
3. Simplisia pelikan (mineral), yaitu simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. Contohnya Belerang dan kapur sirih.
Dari ketiga golongan tersebut, simplisia nabati merupakan jumlah terbanyak yang digunakan untuk bahan obat. Penyiapan simplisia nabati merupakan suatu proses memperoleh simplisia dari tanaman sumbernya di alam. Proses ini meliputi pengumpulan (collection), pemanenan (harvesting), pengeringan (drying), pemilihan (garbling), serta pengepakan, penyimpanan dan pengawetan (packaging, storage, and preservation).
Pemberian nama suatu simplisia umumnya ditetapkan dengan menyebutkan nama marga (genus), atau nama spesies (species) atau petunjuk jenis (specific epithet) dari tanaman asal, diikuti dengan nama bagian tanaman yang dipergunakan. Sebagai contoh : daun dewa dengan nama spesies Gynura procumbens, maka nama simplisianya disebut Gynurae Procumbensis Folium. Folium artinya daun. Namun tidak semua nama simplisia mengikuti aturan seperti diatas, misalnya :
- Guazuame Folium : nama genus dari Guazuma ulmifolia diikuti Folium
- Calami Rhizome : menunjukan penyebutan nama berdasarkan atas nama belakang dari spesies (Acorus calamus)
Nama Latin dari Bagian Tanaman yang digunakan dalam tatanama simplisia antara lain :
Nama latin Bagian tanaman
Amilum Pati
Bulbus Umbi lapis
Caulis Batang
Cortex Kulit kayu
Flos Bunga
Folia Daun
Folium Daun
Fructus Buah
Herba Seluruh tanaman
Lignum Kayu
Radix Akar
Rhizome Rimpang
Semen Biji
Thallus Bagian dari tanaman rendah
Tubera Umbi

Simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar atau dari tanaman yang sengaja dibudidayakan/dikultur. Tanaman liar disini diartikan sebagai tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di hutan-hutan atau di tempat lain di luar hutan atau tanaman yang sengaja ditanam tetapi bukan untuk tujuan memperoleh simplisia untuk obat (misalnya tanaman hias, tanaman pagar). Sedangkan tanaman kultur diartikan sebagai tanaman budidaya, yang ditanam secara sengaja untuk tujuan mendapatkan simplisia. Tanaman budidaya dapat berupa perkebunan luas, usaha pertanian kecil-kecilan atau berupa tanaman halaman dengan jenis tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan memperoleh simplisia tetapi juga berfungsi sebagai tanaman hias.
Dibandingkan dengan tanaman budidaya, tanaman liar sebagai sumber simplisia mempunyai beberapa kelemahan untuk dapat menghasilkan simplisia dengan mutu yang memenuhi standar tetap yang dikehendaki. Hal ini disebabkan karena :
a. Unsur tanaman pada waktu pengumpulan tanaman atau organ tanaman sulit atau tidak dapat ditentukan oleh pengumpul. Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia sering dipengaruhi oleh umur tanaman pada waktu pengumpulan simplisia yang bersangkutan. Ini berarti aktivitas biologis yang dikehendaki dari suatu simplisia sering berubah apabila umur tanamn dari suatu pengumpulan ke waktu pengumpulan lain tidak sama.
b. Jenis (spesies) tanaman yang dikehendaki sering tidak tetap dari satu waktu pengumpulan ke waktu pengumpulan berikutnya. Sering timbul kekeliruan akan jenis tanaman yang dikehendaki. Dua jenis tanaman dalam satu marga kadang mempunyai bentuk morfologi yang sama dari pengamatan seseorang (pengumpul) yang sering bukan seorang ahli / seorang yang berpengalaman dalam mengenal jenis tanaman yang dikehendaki sebagai sumber simplisia. Perbedaan jenis suatu tanaman akan berarti perbedaan kandungan senyawa aktif.
c. Perbedaan lingkungan tempat tumbuh jenis tanaman yang dikehendaki. Satu jenis tanaman liar sering tumbuh pada tempat tumbuh dan lingkungan yang berbeda (ketinggian, keadaan tanah, cuaca yang berbeda). Simplisia yang diperoleh dari satu jenis tanaman sama tetapi berasal dari dua lingkungan dapat mengandung senyawa aktif dominan yang berbeda. Misalnya tanaman D. Myoporoides di daerah Australia utara kandungan skopolamina yang dominan, sedangkan di Australia selatan kandungan hiosiamina yang dominan.
Jika simplisia diambil dari tanaman budidaya maka keseragaman umur, masa panen dan galur tanaman dapat dipantau. Namun tanaman budidaya juga ada kerugiannya. Pemeliharaan rutin menyebabkan tanaman menjadi manja, mudah terserang hama sehingga pemeliharaan ekstra diperlukan untuk mencegah serangan parasit. Penggunaan pestisida untuk ini membawa konsekuensi tercemarnya simplisia dengan residu pestisida (sehingga perlu pemeriksaan residu pestisida).
Identifikasi simplisia yang akan dilakukan secara :
• Organoleptik meliputi pengujian morfologi, yaitu berdasarkan warna, bau, dan rasa, dari simplisia tersebut.
• Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang atau dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang digunakan untuk simplisia.
• Mikroskopik, pada umumnya meliputi pemeriksaan irisan bahan atau serbuk dan pemeriksaan anatomi jaringan itu sendiri.
 Kandungan sel dapat langsung dilihat di bawah mikroskop atau dilakukan pewarnaan. Sedangkan untuk pemeriksaan anatomi jaringan dapat dilakukan setelah penetesan pelarut tertentu, seperti kloralhidrat yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan sel seperti amilum dan protein sehingga akan dapat terlihat jelas di bawah mikroskop. Namun, untuk pemeriksaan amilum dilakukan dengan penetesan air saja.
Berikut adalah beberapa penjabaran dari tanaman yang digunakan untuk simplisisa pada praktikum ini:
1. Apii graveolens Folium






Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Sub Divisi : Magnoliopsida
Kelas : Apiales
Family : Apiaceae
Genus : Apium
Spesies : A. graveolens
Makroskopis:
Herba tegak, dapat tumbuh lebih dari dua tahun, daun berpangkal pada batang dekat tanah, bertangkai, dan di bagian bawah sering terdapat daun muda di kedua sisi tangkainya, helaian daun berbentuk lekuk tangan, tidak terlalu dalam, panjang 2-5 cm, lebar 1,5-3 cm, baunya sedap, khas. Batang kaku dan bersiku, berupa batang semu, tinggi tanaman mencapai 25-100 cm. Bunga tersusun majemuk, bertangkai pendek-pendek, bergerombol kecil, berwarna putih sampai hijau keputihan. Buah membulat, panjang 1-2 mm, berwarna coklat lemah sampai coklat kehijauan suram.
Mikroskopis:
Anatomi simplisia yang teramati oleh praktikan dibawah mikroskop adalah stomata dan kristak kalsium oksalat.
2. Caryophily Flos










Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnolipsida
Ordo : Myrtales
Family : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : S.aromaticum
Makroskopis:
Cengkeh (Syzygium aromaticum) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, cengkeh mampu bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun , tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan cabang-cabangnya cukup lebat.
Mikroskopis:
Anatomi simplisia yang dapat diamati oleh praktikan adalah peristem sekunder, butir pati, endosperm, berkas pembuluh.

3. Chicona Cortex









Kingdom :
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Family : Rubiaceae
Genus : Chinchona
Spesies : Chinchona sp.
Makroskopis:
Letak daun berhadapan, bentuk bundar sungsang lonjong, panjang 8 –15cm, lebar 3 – 6cm, permukaan bagian bawah berbulu halus seperti beludru terutama pada daun yang masih muda, panjang tangkai 1 – 1.5cm. Bunga bentuk malai, berbulu halus, bunga mengumpul di setiap ujung perbungaan, kelopak bentuk tabung dan bergigi pada bagian atasnya. Buah berwarna kemerahan bila masak, bentuk seperti telur panjang 4mm. Tinggi pohon antara 4 – 10m, cabang bentuk segi empat, berbulu halus atau lokos. Daun elip sampai lanset, bagian pangkal lancip dan tirus, ujung daun lancip. Batang berkayu.

Mikroskopis:
Anatomi simplisia yang teramati oleh praktikan di bawah mikroskop antara lain adalah parenkim, sel gabus yang terlihat tangensial, butir pati lepas, dan hablur pasir



















BAB II

2.1 ALAT DAN BAHAN
a. ALAT :
1. Mikroskop
2. Lampu spiritus
3. Kaca pembesar
4. Gelas objek dan penutup gelas
5. Tissue / Lap

b. BAHAN :
1. Simplisia
2. Aquadestilata
3. Larutan Kloralhidrat
4. Spiritus bakar untuk lampu spiritus

2.2. PROSEDUR PERCOBAAN (PENYIAPAN PREPARAT)
1. Amilum
Dilihat dalam media air dengan pembesaran lemah (12,5 x 10) dan pembesaran kuat (12,5 x 40).
2. Radix, Rhizoma
Serbuk akar secukupnya ditempatkan di atas gelas objek ditambah beberapa tetes larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu spiritus (jangan smapai mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat dengan pembesaran kuat.
3. Lignum, Cortex
Serbuk batang atau kulit batang secukupnya ditempatkan di atas gelas objek ditambah beberapa tetes larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu spiritus (jangan smapai mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat dengan pembesaran kuat.
4. Folium, Herba
Serbuk daun secukupnya ditempatkan di atas gelas objek ditambah beberapa tetes larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu spiritus (jangan smapai mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat dengan pembesaran kuat.
5. Flos, Fructus, Semen
Serbuk bunga, buah atau biji secukupnya ditempatkan di atas gelas objek ditambah beberapa tetes larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu spiritus (jangan smapai mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat dengan pembesaran kuat.

DAFTAR SIMPLISIA
Bagian tanaman No. Nama Simplisia
Radix, Rhizoma, Tuber 1. C. xanthorhizza (Rhizoma (Rimpang Temulawak)
2. Curcuma domestica Rhizoma (Rimpang kunyit)
3. Languatis Rhizoma (Rimpang Lengkuas)
4. C.aeruginosae Rhizoma (Rimpang Temu Hitam)
5. Vetiveriae zizanioides Radix (Akar Wangi)
6. Zingiber officinalle (Rimpang Jahe)
7. Z. purpurea Rhizoma (Rimpang Bangle)
8. Mirabilis Tuber (Umbi Bunga Pukul Empat)
9. Kaemferiae Rhizoma (Rimpang Kencur)
10. Curcuma alba Rhizoma (Rimpang Kunyit Putih)
Lignum, Cortex 11. Caesalpinia Cortex (Kulit Kembang Merak)
12. Chinchona Cortex (Kulit Kina)
13. Alstoniae Cortex (Kulit Pule)
14. Sappan Lignum (Kulit Secang)
15. Tinosporae Caulis (Batang Brotowali)
16. Cinamommum burmannii Cortex (Kulit Kayu Manis)
17. Santali Lignum (Kayu Cendana)
Folium, Herba 18. Digitalis Folium (Daun digitalis)
19. Phylantii Herba (Herba Meniran)
20. Sonchi Folium (Daun Tempuyung)
21. Apii graveolens Folium (Daun Seledri)
22. Carica papaya Folium (Daun Pepaya)
23. Gynura Folium (Daun Dewa)
24. Andrographis paniculata Folium (Daun Sambiloto)
Flos, Fructus, Semen 25. Amomi Fructus (Buah Kapulaga)
26. Caryophylli Flos (Bunga Cengkeh)
27. Piperis albi Fructus (Buah lada putih)
28. Piperis nigri Fructus (Merica Hitam)
29. Coffea Semen (Biji Kopi)
30. Myristicae Semen (Biji Pala)
Amilum 31. Amilum oryzae
32. Amilum mannihot
33. Amilum maydis
34. Amilum metroxilon













BAB III
3.1 PEMBAHASAN
Pada praktikum haksel ini dilakukan pemeriksaan simplisia secara mikroskopik, organoleptis dan makroskopik pada 34 haksel dan serbuk simplisia. Pemeriksaan secara organoleptis dilakukan dengan mengamati warna, bau, dan rasa. Pemeriksaan secara mikroskopik dilakukan dengan melihat anatomi jaringan dari serbuk simplisia yang ditetesi larutan kloralhidrat kemudian dipanaskan di atas lampu spiritus (jangan sampai mendidih). Kemudian pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat. Sedangkan khusus untuk uji amilum hanya ditetesi dengan aquades. Hal ini disebabkan karena penetesan kloralhidrat pada amilum dapat menghilangkan butir-butir amilum. Kloralhidrat juga dapat digunakan untuk menghilangkan kandungan sel seperti protein. Sedangkan pemeriksaan secara makroskopik dilakukan dengan melihat simplisia dan serbuk simplisia secara langsung dengan mata telanjang, memperhatikan bentuk dari simplisia.
Namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi pada pemeriksaan makroskopik dan organoleptis. Simplisia satu dengan yang lainnya memiliki bentuk, warna, dan bau yang hampir mirip pada sebagian besar simplisia. Sedangkan kendala pada pemeriksaan mikroskopis adalah pada saat pemanasan, terkadang kloralhidrat pada objek gelas mendidih, sehingga pada saat diamati dibawah mikroskop, objek menjadi tidak jelas. Kendala lain pada pemeriksaan mikroskopis adalah ketidaktelitian praktikan dalam menggunakan alat sehingga antara pengamatan simplisia satu dengan yang lainnya dapat tercampur dan dapat mempengaruhi pemeriksaan.
Tentunya banyak simplisia yang memiliki perbedaan yang jelas jika dibandingkan dengan simplisia yang lain. Hal ini disebabkan simplisia tersebut memiliki ciri khas yang diakibatkan oleh adanya perbedaan anatomi dan morfologi. Namun ciri khas tersebut dapat pula tidak nampak karena kesalahan dalam melakukan pemeriksaan dan penyimpnan simplisia yang relatif lama. Berikut ini merupakan penjabaran secara organoleptis, makroskopis, dan mikroskopis dari simplisia yang praktikan amati:
1. Curcuma xanthorhizza Rhizoma
a. Organolepis :
kuning muda-kecoklatan, bau sedikit menyengat, rasa pahit.
b. Makroskopik:
Kuning pucat pada bagian dalam, coklat muda pada bagian luar, bentuknya bulat dan agak besar.
c. Mikroskopik:
Ciri kas anatomi jaringan ini yaitu adanya serabut sklerenkim dan rambut penutup. Namun anatomi yang dapat diamati oleh praktikan meliputi serabut sklerenkim, rabut penutup,berkas pembuluh dan butir pati.
2. Curcuma domestica Rhizoma
a. Organolepis :
Warna oranye kekuningan, dengan bau khas aromatik dan rasa agak hambar.
b. Makroskopik:
Kuning (Oranye cerah) pada bagian dalam, coklat pucat pada bagian luar, bentuknya bulat agak lonjong.
c. Mikroskopik: Anatomi jaringan ini mempunyai ciri khas yaitu adanya parenkim, gumpalan sel, dan rambut penutup. Anatomi jaringan yang diamati praktikan meliputi pembuluh kayu, parenkim dan butir pati.
3. Languatis Rhizoma
a. Organolepis :
Warna kecoklatan, tidak berbau, rasanya hambar
b. Makroskopik:
Warnanya coklat muda , berbentuk agak lonjong
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan ini mempunyai ciri yaitu memiliki jaringan berkas pembuluh. Anatomi jaringan yang dapat diamati praktikan meliputi parenkim dengan butir pati, jaringan berkas pembuluh, dan butir pati
4. C.aeruginosae Rhizoma (Rimpang Temu Hitam)
a. Organolepis :
Warna kuning kecoklatan dengan bau aromatik dan rasa hambar
b. Makroskopik:
Warna kuning pucat pada bagian dalam dan berserat, coklat pucat pada bagian luar, bentuknya bulat agak lonjong.
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan ini yang dapat diamati yaitu butir pati, perisperm perifer, parenkim dengan butir pati.
5. Vetiveriae zizanioides Radix (Akar Wangi)
a. Organolepis :
Warna coklat muda, bau khas aromatik, rasa tidak berasa.
b. Makroskopik :
Akar berupa serabut kecil dan agak panjang berwarna coklat pucat kekuningan.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu parenkim, butir pati, parenkim sel minyak, dan serabut sklerenkim.
6. Zingiber officinalle (Rimpang Jahe)
a. Organolepis :
Warna coklat muda dengan bau aromatik dan rasa pedas.
b. Makroskopik:
Warna kuning pucat pada bagian dalam dan berserat, coklat pucat pada bagian luar, bentuknya bulat agak lonjong.
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan ini mempunyai ciri serabut, pembuluh kayu dan berkas pembuluh. Anatomi yang dapat diamati yaitu butir pati, serabut, parenkim dengan sel ekskresi, berkas pembuluh.
7. Z. purpurea Rhizoma (Rimpang Bangle)
a. Organolepis :
Warna kuning, bau aromatik, rasa tidak berasa.
b. Makroskopik:
Berbentuk seperti akar-akaran yang agak besar, berserat
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan yang dapat diamati meliputi pembuluh kayu, serabut xilem, dan putir pati.
8. Mirabilis Tuber (Umbi Bunga Pukul Empat)
a. Organolepis :
Warna coklat, tidak berbau, rasa asin
b. Makroskopik :
Umbi berwarna coklat pusat dan berserat.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu hablur kalsium oksalat bentuk jarum (khas), butir pati, dan parenkim
9. Kaemferiae Rhizoma (Rimpang Kencur)
a. Organolepis :
Warna coklat kemerahan, bau khas aromatik, rasa hambar
b. Makroskopik :
Rimpang bulat sembarang, kulit coklat dan bagian dalam berwarna putih pucat.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu pembuluh kayu dengan penebalan spiral, butir pati, parenkim dan sel minyak
10. Curcuma alba Rhizoma (Rimpang Kunyit Putih)
a. Organolepis :
Warna putih agak kecoklatan, bau khas, dan rasa agak asin.
b. Makroskopik :
potongan melintak berbentuk lingkaran yang berserabut.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu serabut sklerenkim, epidermis atas, butir pati.
11. Caesalpinia Cortex (Kulit Kembang Merak)
a. Organolepis :
Warna coklat muda, bau aromatik, tidakk berasa
b. Makroskopik:
Kulit kayu berwarna coklat muda dengan bintik hitam tersebar.
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan ini yang dapat diamati yaitu parenkim dengan kristal, hablur kalsium oksalat, parenkim korteks
12. Chinchona Cortex (Kulit Kina)
a. Organolepis :
Warna coklat kemerahan, bau khas agak menyengat, rasa pahit.
b. Makroskopik:
Kulit kayu berwarna merah berserat membujur.
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan ini mempunyai ciri khas serabut floem dan butir pati lepas. Anatomi yang dapat diamati praktikan yaitu parenkim, hablur pasir, gabus tangensial, dan butir pati lepas.
13. Alstoniae Cortex (Kulit Pule)
a. Organolepis :
Warna coklat kekuningan, berbau harum, dan rasanya pahit.
b. Makroskopik :
Kulit kayu berwarna coklat tua dan bergelombang (bagian luar), bagian dalam halus dan berwarna coklat muda.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu serabut, sel batu, hablur kalsium olsalat, jaringan gabus dan butir pati.
14. Sappan Lignum (Kulit Secang)
a. Organolepis :
Warna coklat muda, bau khas, rasa agak hambar.
b. Makroskopik :
Batangnya berwarna coklat-oranye berserat.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu serabut xilem, serabut pembuluh kayu.
15. Tinosporae Caulis (Batang Brotowali)
a. Organolepis :
Warna coklat, bau aromatis, rasa sangat pahit.
b. Makroskopik :
Batang berwarna coklat keputihan agak pucat dan terdapat tonjolan kehitaman.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu parenkim, serabut, pembuluh kayu bernoktah, hablur kalsium oksalat
16. Cinamommum burmannii Cortex (Kulit Kayu Manis)
a. Organolepis :
Warna coklat kemerahan, bau khas aromatik, rasa agak manis, rasa tidak berasa
b. Makroskopik :
Kulit kayu berwarna coklat kemerahan dan biasanya menggulung.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu sel batu, serabut sklerenkim dan sel hablur kalsium oksalat
17. Santali Lignum (Kayu Cendana)
a. Organolepis :
Warna coklat keoranyean, bau aromatik, rasa tidak berasa
b. Makroskopik :
Batang berkayu kecoklatan
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu serabut, hablur kalsium oksalat, seludang hablur kalsium oksalat.
18. Digitalis Folium (Daun digitalis)
a. Organolepis :
Warna hijau kehitaman, bau aromatik, rasa pahit
b. Makroskopik :
Daun coklat kehijauan, berserat kasar.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu trikoma dan glandular tricoma yang merupakan ciri khas dari simplisia ini.
19. Phylantii Herba (Herba Meniran)
a. Organolepis :
Warna coklat kehijauan, tidak berbau, rasa tidak berasa.
b. Makroskopik:
Batang kecil coklat muda dengan daun kecil coklat kehijauan,.
c. Mikroskopik:
Anatomi jaringan ini mempunyai ciri fragmen mesofil dan fragmen kulit biji. Anatomi yang dapat diamati oleh praktikan yaitu hablur kalsium oksalat, fragmen kulit buah, fragmen kulit biji
20. Sonchi Folium (Daun Tempuyung)
a. Organolepis :
Warna coklat kehijauan, berbau lemah, dan tidak berasa
b. Makroskopik :
Daun hijau tua, tulang daun menyirip, tepi daun bergerigi dan kasar.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu berkas pembuluh dan rambut penutup. Jika diamati dari gambar, berkas pembuluhnya mirip per. Hal inilah yang menjadikan berkas pembuluhnya merupakan ciri khas dari simplisia ini. Anatomi yang dapat diamati praktikan yaitu pembuluh dan epidermis atas.
21. Apii graveolens Folium (Daun Seledri)
a. Organolepis :
Warna coklat kehijauan , bau aromatik, dan rasa asin sedikit pedas, lama – lama timbul rasa tebal di lidah.
b. Makroskopik :
Daun coklat kehijauan, berbentuk seperti kipas dan tepi daun bergerigi.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu stomata, kristal kalsium oksalat, fragmen xilem dengan floem dan dengan penebalan cincin.
22. Carica papaya Folium (Daun Pepaya)
a. Organolepis :
Warna hijau tua, bau aromatik, rasa agak pahit.
b. Makroskopik :
Daun berwarna hijau tua dengan tulang daun menjari.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu epidermis atas, hablur kalsium oksalat, fragmen mesofil.
23. Gynura Folium (Daun Dewa)
a. Organolepis :
Warna hijau-coklat, bau khas aromatik, rasa tidak berasa
b. Makroskopik :
Daun berwarna hijau-kehitaman, lonjong dan permukaan berbulu.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu rambut penutup,jaringan bunga karang, dan epidermis bawah
24. Andrographis paniculata Folium (Daun Sambiloto)
a. Organolepis :
Warna coklat kehijauan, bau agak menyengat, rasa sangat pahit.
b. Makroskopik :
Daun kecil berwarna hijau tua berserat.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu sistolit, fragmen epidermis, fragmen epidermis bawah, fragmen kulit buah.
25. Amomi Fructus (Buah Kapulaga)
a. Organolepis :
Warna putih abu kecoklatan, bau aromatik, rasa agak pedas.
b. Makroskopik :
Buahnya bulat, terdapat tonjolan garis membujur berwarna putih mengelilingi buah.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu epidermis luar tangensial, perikarp, hablur kalsium oksalat, dan endosperm
26. Caryophylli Flos (Bunga Cengkeh)
a. Organolepis :
Warna coklat muda, bau khas aromatik, rasa tidak berasa.
b. Makroskopik :
Bunga berbentuk silinder dengan ujung tajam, dan ujung yang lain, terdapat kelopak, berwarna coklat tua.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu serabut sklerenkim, calsium oksalat, sel batu dan sklereida
27. Piperis albi Fructus (Buah lada putih)
a. Organolepis :
Warna putih, bau khas, rasa pedas.
b. Makroskopik :
Bulat kecil berwarna putih
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu kelompok sel batu, fragmen perisperm, butir pati.
28. Piperis nigri Fructus (Merica Hitam)
a. Organolepis :
Warna hitam, bau khas, dan rasanya pedas
b. Makroskopik :
Bulat kecil berwarna hitam
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu jafragmen perisperm, fragmen mesokarp, butir pati.
29. Coffea Semen (Biji Kopi)
a. Organolepis :
Warna coklat tua-hitam, bau harum khas aromatik, rasa pahit.
b. Makroskopik :
biji bulat lonjong, berbentuk bulir, berwarna coklat kehitaman, bagian tengah terdapat belahan.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu sel batu, perisperm, vakuola.
30. Myristicae Semen (Biji Pala)
a. Organolepis :
Warna coklat muda, bau khas aromatik, rasa tidak berasa
b. Makroskopik :
Biji bulat lonjong, berwarna coklat muda bergelombang
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu peristem sekunder, butir pati, endosperm, berkas pembuluh.
31. Amilum oryzae
a. Organolepis :
Warna putih, tidak berbau, tidak berasa
b. Makroskopik :
Hablur putih
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu butir pati menggerombol.
32. Amilum mannihot
a. Organolepis :
Warna putih , tidak berbau, tidak berasa.
b. Makroskopik :
Habur putih.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu butir pati sebagian besar tunggal, ada yang bergerombol dua atau tiga, hilus terlihat dan berbentuk lamda
33. Amilum maydis
a. Organolepis :
Warna putih , tak berbau, tek berasa.
b. Makroskopik :
Habur putih.
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu butir pati ada yang bergerombol, ada yang tunggal, hilus terlihat.
34. Amilum metroxilon
a. Organolepis :
Warna putih, tak berbau, tak berasa.
b. Makroskopik :
Hablur putih
c. Mikroskopik :
Anatomi jaringan yang teramati yaitu butir pati tunggal, ada hilus dan lamela.

3.2 KESIMPULAN
1. Praktikum haksel dan pemeriksaan simplisia dilakukan pemeriksaan secara organoleptis, makroskopik dan mikroskopik.
2. Pemeriksaan secara organoleptik meliputi pengujian morfologi, yaitu berdasarkan warna, bau dan rasa.
3. Pemeriksaan secara makroskopik pengujian dilakukan dengan mata telanjang atau dapat juga dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang digunakan sebagai simplisia.
4. Pemeriksaan secara mikroskopik dilakukan dengan melihat anatomi jaringan dari serbuk simplisia di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (12,5 x 10) dan perbesaran kuat (12,5 x 40).
5. Tujuan dari penambahan larutan kloralhidrat adalah untuk menghilangkan kandungan sel seperti amilum dan protein sehingga dapat terlihat jelas di bawah mikroskop.
6. Tujuan serbuk simplisia yang ditetesi oleh larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas spiritus menyala adalah agar kloralhidrat sedikit menguap karena pemanasan, sehingga simplisia dapat menempel sempurna pada objek glass. Pemanasan juga dapat membuat isi sel seperti amilum rusak.
7. Tidak semua simplisia mempunyai ciri khas yang membedakan simplisia dengan simplisia lainnya.
8. Pada pemeriksaan simplisia dan serbuk hanya beberapa simplisia berhasil dikerjakan dengan baik, disebabkan kesalahan praktikan saat mengerjakan penyiapan preparat simplisia,keterbatasan waktu yang disediakan, atau dapat juga dikarenakan bahan simplisia yang terlalu lama disimpan,

DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 1975. Materia Medika Indonesia, Jilid I, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 1977. Materia Medika Indonesia, Jilid II, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid V, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid VI, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Anonim, 2008, “Buku Ajar Mata Kuliah Farmakognosi”, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran
Tim Penyusun, 2008, “Petunjuk Praktikum Farmakognosi”, Laboratorium Farmakognosi Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar