Selasa, 19 Oktober 2010

STANDARISASI DAN SPESIFIKASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK

BAB I
STANDARISASI DAN SPESIFIKASI
SIMPLISIA DAN EKSTRAK

1. Pengertian
Standarisasi adalah proses dalam menetapkan atau merumuskan dan merevisi standar yang dilaksanakan secara tertib.
Standar adalah sesuatu yang dibakukan dan disusun berdasarkan konsesus semua pihak terkait dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keamanan, keselamatan lingkungan, berdasarkan pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya
2. Standarisasi dalam penerapan teknologi
 Pre-Farm
 On-Farm
 Off-Farm
 Teknologi panca panen
 Teknologi ekstrak standar
 Teknologi pengujian khasiat dan toksisitas
 Teknologi produksi obet herbal
3. Standarisasi simplisia
Syarat yang harus dipenuhi antara lain kemurnian simplisia, tidak mengandung pestisida berbahaya, logam berat, dan senyawa toksik dan beberapa persyaratan lain dalam Farmakope Indonesia.
4. Standarisasi ekstrak
Kegunaan ekstrak obat terstandar antara lain memepertahankan konsistensi kandungan senyawa aktif batch yang diproduksi, pemekatan kandungan senyawa aktif pada ekstrak

Parameter yang ditetapkan dalam standarisasi ekstrak antara lain: parameter non spesifik dan parameter spesifik.
Parameter non spesifik yaitu susut pengeringan dan bobot jenis, kadar air, kadar abu, sisa pelarut, residu pestisida
Parameter spesifik yaitu identitas, organoleptik, senyawa terlarut pada pelarut polar dan non polar serta profil kromatografi.

5. Herbal terstandar dan fitofarmaka
Yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan mutu simplisisa adalah
a. Simplisis harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku acuan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI
b. Terdapat simplisia pembanding yang setiap periode harus diperbaharui.
c. Dilakukan pemeriksaan mutu fisi secara tepat.
d. Dilakukan pemeriksaan secara lengkap seperti pemeriksaan organolepti, makrokospis, mikrokospis, pemeriksaan fisika, kimiawi, kromatografi.
6. Parameter standarisasi
Parameter standarisasi antara lain:
• Organoleptik
Pemeriksaan meliputi warna, bau, dan rasa.
• Makrokospis
Pemeriksaan dengan dilihat secara langsung, dapat juga dengan bantuan kaca pembesar
• Mikrokosis
Pemeriksaan dengan melihat jaringan sel simplisia dibawah mikroskop
• Fluoresensi
Uji ini dapat dilakukan terhadap ekstrak, atau larutan yang dibuat dari simplisia
• Kelarutan
Dilakukan pada simplisia yang berupa eksudat tanaman
• Reaksi warna , pengendapan, dan reaksi lain
Pada reaksi warna dapat dilakukan pada simplisia yang telah diserbuk
Pada reaksi pengendapan dilakukan pada ekstrak larutan simplisia yang jernih.
• Kromatografi
Cara ini mempunyai kepekaan yang tinggi, cepat, sederhana dan murah.
• Penetapan kadar
Syarat untuk dapat diterapkannya pengujian yang berupa zat ini adalah telah diketahui secara pasti kadar minimal zat berkhasiat yang harus dikandung oleh simplisia
• Cemaran mikroba dan aflatoksin
Seperti Aspergillus flavus, merupakan mikroba jamur yang tidak berbahaya, tetapi metabolit aflatoksinnya menyebabkan keracunan.
• Cemaran logam berat
Seperti cemaran hydrogen sulfida tidak boleh melebihi batas logam berat pada monografi yang dinyatakan sebagai timbal





























BAB II
VARIABILITAS DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS BAHAN ALAM

1. Metabolit sekunder tidak mensuport tumbuhan tetapi lebih berpengaruh pada kepertahanan diri.
Contoh: terpen, alkaloid, glycoside,pigment, tanin.
2. Botanical drug: obat yang langsung dari tanaman atau simplisia
Drug from botanical: senyawa yang diambil dari tanaman
3. Faktor yang mempengaruhi metabolit sekunder
a. Genetic Factor
• Varietas tanaman, varietas tanaman dibukit berbeda dengan tanaman di denpasar
• Jenis tanaman (tanaman liar atau tanaman budidaya)
• Mutasi gen
b. Land Preparation
• Pemupukan organic/ anorganic
• Jarak tanam
c. Geofisika
• Temperatur
• Cahaya
• Hujan
• Ketinggian
• Angin
• Tanah; sifat fisika dan kimia tanah, ada atau tidaknya microbial tanah seperti Rhizobium, serta keberadaan pestisida.
• Nutrisi; seperti mineral tanah
d. Biotik
• Virus; karena terinfeksi virus , tanaman menghasilkan metabolit sekunder untuk mempertahankan diri
• Bakteri; sama seperti halnya jika terinfeksi virus, tanaman yang terserang bakteri juga akan menghasilkan metabolit sekunder untuk mempertahankan diri.
• Keberadaan serangga; telur serangga dapat menutupi daun, sehingga mengganggu jalannya proses respirasi dan fotosintesis
• Kerapatan tanaman
• Kompetisi dengan tanaman lain
4. Faktor Bahan Baku Simplisia
Tanaman obat atau sumber simplisia dapat berasal dari:
a. Tanaman Liar: merupakan tanaman yang diperoleh dari hutan, lahan liar, tanaman pagar, atau tanaman hias, jadi dapat juga merupakan tanaman yang ditanam dan dipelihara, tetapi tidak dengan tujuan untuk dijadikan sebagai bahan baku simplisia
b. Tanaman Budidaya: merupakan tanaman yang memang sengaja ditanam dan dibudidayakan untuk dijadikan sebagai bahan baku simplisia
5. Faktor Proses Pembuatan Simplisia
a) Pengumpulan bahan baku
Pengumpulan bahan baku dipengaruhi oleh waktu pengumpulan, dan juga teknik pengumpulan.
b) Sortasi basah
Sortasi basah memiliki tujuan untuk membersihkan dari benda-benda asing seperti tanah, kerikil, rumput, bagian tanamn lain dan bahan yang rusak.
c) Pencucian
Pencucian simplisia dengan menggunakan air, sebaiknya meperhatikan sumber air, agar diketahui sumber air tersebut mengalami pencemaran atau tidak.
d) Pengubahan bentuk
Pengubahan bentuk simplisa seperti perajangan, pengupasan, pemiprilan, pemecahan, penyerutan, pemotongan
e) Pengeringan
Pengeringan dilakukan sedapat mungkin tidak merusak kandungan senyawa katif dalam simplisia. Tujuan pengeringan yaitu agar simplisia awet, dan dapat digunakan dalam jangga waktu yang lama.
f) Sortasi kering
Pada sortasi kering, benda-benda asing yang masih tertinggal, dipisahkan, agar simplisia bersih sebelum dilakukan pengepakan
g) Pengepakan dan penyimpanan
Tujuan penyimpanan adalah untuk mencegah terjadinya penurunan mutu simplisia





























BAB III
FLAVONOID
1. Pengertian
Flavonoid merupakan senyawa fenolik
2. Sifat
• Mengalami perubahan warna jika direaksikan dengan basa
• Jarang berada dalam bentuk tunggal
• Flavonoid dalam bentuk glikosida dan aglikon polihidroksi bersifat polar
• Flavonoid dalam bentuk flavanoid polimetoksi bersifat nonpolar
3. Kegunaan
• Sebagai diuretic
• Antifertilitas yaitu butin
• Antispasmodik
• Antitumor
• Efek anti alergi dan antiinfeksi
Flavonoid terbentuk lewat jalur metabolisme asam asetat dan asam sikhimat.
Flavonoid terbentuk dari gabungan 3 unit asam asetat dan fenil propan.

4. Penggolongan:
1) Flavonoid
 Inti berupa cinicn piron.
 Substituen utama pada flavonoid adalah gugus O-H
 Substituen lain yang sering terikat pada struktur inti flavonoid adalah gugus metoksi, gugus metil, gula
 Kerangka substitusi yang diturunkan yaitu:
• Flavon
Berada dalam bentuk glikosida dialam
Contoh:
- apigenin pada daun seledri
- senyawa flavon pada wortel
- Luteolin pada daun seledri
• Flavonol
Mempunyai struktur seperti flavon, tetapi pada osisi C nomer 3 dari O inti piron terdapat gugus –OH.
• Xanthon
Contoh senyawa xhanton:
- Gentisin dari akar gentian memiliki aktivitas antimikroba
- Mangiferin, dalam bentuk glikosida pada spesies Hypericum, Swertia chirata.
• Flavanoid minor
Contohnya: chalkon, auron, flavonon, isoflavon.
Chalkon dan auron merupakan pigmen kuning pada compositae.
Isoflavon keberadaan nya sangat terbatas.
2) Flavanoid
o Pada struktur inti flavanoid terdapat inti berupa cincin piran.
o Flavanoid memiliki 2 golongan yaitu:
a. Katekin
 Memliki sifat
 larut dalam air, etanol, etil asetat, eter
 tidak larut dalam kloroform dan PE
 Apabila dipanaskan dengan asam akan muncul endapan merah coklat.
 Kegunaan: sebagai antidiare, menghambat efek kafein
b. Leukoantosian
 Sifat:
 larut dalam air, etanol, etil asetat
 Tidak larut dalam eter, kloroform, dan PE
3) Antosian
o Pada struktur inti terdapat inti berupa cincin pirinium.
o Merupakan pigmen warna, yang menyebabkan tumbuhan berwarna merah, ungu, biru, pada daun bunga.
o Apabila dihidrolisis dengan asam akan menghasilkan antosianidin
o Sifat:
 larut dalam air, etanol, dan pelarut beroksigen
 tidak stabil sebagai zat warna
 bila terdapat gugus o-OH dapat membentuk khelat dengan logam berat.

BAB IV
RESIN

1. Sifat Resin
a. Sifat Fisik
• Bobot jenisnya lebih besar dari air
• Berbentuk padatan keras dan setengah padat
• Jika terkena panas, resin menjadi lembek
b. Kelarutan dalam pelarut
• Tidak larut dalam air
• Larut dalam alcohol, eter,aseton, kloroform, larutan kloralhidrat, dan karbon disulfida.
c. Komposisi kimia
• Terdiri dari asam,ester, dan glikosida
• Tidak mengandung unsure N
• Dapat mengalami perubahan warna dan perubahan kelarutan
• Sangat mudah teroksidasi
2. Contoh Resin
a. Colorophony
• Tanaman penghasil: Pinus palustris, Pinus toeda, Pinus echinata, Pinus cubensis, Pinus cariboea
• Kandungan : abietic acid yang mempunyai isomer ,, dan 
• Kegunaan : sebagai stimulan dan diuretik
b. Bordeaux Turpentine
• Tanaman penghasil : Pinus maritima
• Kandungan : pimarinic, pimaric,  dan  pimarolic acid
• Kegunaan : -
c. Venice Turpentine
• Tanaman penghasil :Larix europoea
• Kandungan :  dan  larinolic acid
• Kegunaan : -
d. Sandarac
• Tanaman penghasil :Tetraclinis articulata
• Kandungan : pimaric acid, minyak atsiri
• Kegunaan : untuk cat terutama kayu-kayu dengan warna
terang
e. Guaicum Resin
• Tanaman penghasil : Guaiacum officinale dan Guaiacum sanctum.
• Kandungan :  dan  guaiaconic acid, guaiaretic acid, guaiaic
acid, vanillin, dan guaiac-saponin
• Kegunaan : sebagai stimulan local pada produk lozenges, dan
dalam pengobatan gout kronis dan reumatik.
f. Benzoin
• Tanaman penghasil : Styrax benzoin dan Styraxparalleloneurus
• Kandungan : asam sinamat, asam benzoat
• Kegunaan : sebagai carminativum, ekspektoran, antiseptik
g. Mastich
• Tanaman penghasil : Pistasia lentiscus
• Kandungan :  dan -masticonic acid, -masticoresene, -masticoresene
• Kegunaan : sebagai stimulan, dan digunakan dalam penyalutan tablet enterik
h. Shellac
• Tanaman penghasil : Tacchardia lacca
• Kandungan : -
• Kegunaan : sebagai penyalut enterik
i. Gum-Resin
• Tanaman penghasil : -
• Kandungan : minyak atsiri, glikosida, enzim
• Kegunaan :-
j. Myrrh
• Tanaman penghasil : Commiphora molmol
• Kandungan : terdiri dari campuran resin, minyak atsiri, gum
• Kegunaan : sebagai stimulan dan antiseptik pada mouthwash
k. Oleo-Resin
• Tanaman penghasil : Copaiba
• Kandungan : asam bonzoat, asam sinamat
• Kegunaan :-
l. Balsam Copaiba
• Tanaman penghasil : Copaifera lansdorfii
• Kandungan : -
• Kegunaan : sebagai desifektan, ekspektoran dan pengobatan bronchitis kronis, serta inflamasi pada uretra
m. Balsam Tolu
• Tanaman penghasil : Myroxylon balsamum
• Kandungan :mengandung resin, benzil benzoat,benzil sinamat, asam sinamat, vanilin
• Kegunaan :sebagai antiseptik, dan sebagai penambah rasa pada obat batuk
n. Balsam Peru
• Tanaman penghasil : Myroxylon pereiroe
• Kandungan : -
• Kegunaan : sebagai antiseptik, ekspektoran dan parasitisida misalnya scabies
















BAB V
PEPTIDA

1. Senyawa peptida mempunyai sifat fisika, kimia dan aktivitas farmakologi yang berbeda-beda.
2. Senyawa peptida yang memiliki bobot molekul rendah adalah
a. antibiotik dengan struktur polipeptida siklis seperti:
• Gramicidin
• Polymyxin
• Bacitracin
b. hormon peptida, seperti:
• oksitosin
• vasopressin
• glutation

3. Peptida disntesa dari C-terminal asam amino yang pertama dan N-terminal dari asam amino yang kedua.

Hormon peptida
4. Hormon peptida yang disekresikan oleh kelenjar pituitary anterior yaitu:
• LH dan FSH : bekerja pada gonad
• Prolaktin : mengontrol sekresi air susu
• ACTH : mengatur pelepasan glukokortikoid
• Growth hormon: bekerja pada tulang, otot dan liver.
5. Hormon peptida yang disekresikan oleh kelenjar pituitary posterior yaitu:
• ADH : berperan dalam menghambat diuresis, kekurangan hormon ini
mengakibat kan diabetes insipidus
• Oksitosin : untuk meningkatkan kontriksi pada uterus

6. Hormon peptida dihasilkan dari berbagai macam orgam seperti dalaam jantung dan pancreas.
7. Kelenjar pituitary diambil dari beberapa mamalia seperti sapi, dan domba
8. Insulin diperoleh dari kelenjar pancreas babi. Insulin merupakan hormon yang dapat mengontrol kadar gula dalam daah, yang penting dalam pengobatan diabetes mellitus.
































BAB VI
TANIN

Pengertian
Tannin adalah senyawa kompleks campuran polifenol yang sulit dipisahkan karena tidak dapat dikristalkan.
Klasifikasi
Tanin dibagi menjadi dua yaitu:
• Tanin terhidrolisi: bentuk esternya dapat dihidrolisi menjadi asam fenolat dan gula
• Tanin terkondensasi : tannin yang terdiri dari inti fenolik tetapi terkadang terikat karbohidrat atau protein.

Sifat
a. mengendapkan protein
b. tahan terhadap enzim proteolitik
c. menimbulkan efek astringen
d. dapat membentu antiseptik ringan
e. memilki efek homeostatik

Kegunaan
a. Sebagai astringen dalam saluran certa dan abrasi kulit
b. Dapat digunakan dalam pengobatan luka bakar
c. Dapat digunakan dalam penyamakan kulit hewan
d. Mengawetkan kulit hewan yang telah disamak
e. Digunakan untuk pengobatan digigit serangga.
f. Digunakan untuk pengobatan hemoroid.

Tanaman yang mengandung tannin
Hamamelis virgiana mengandung hamamelitanin, derivat asam galat, gula hexosa, minyak atsiri, asam galat, dan asam oksalo asetat.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, “Buku Ajar Mata Kuliah Farmakognosi”, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran
www.google.com
www.wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar